Rizal Ramli

Written By maura avel on Thursday, November 15, 2012 | 10:11:00 PM

Rizal Ramli

Menteri Keuangan Republik Indonesia ke-23
Masa jabatan
12 Juni 2001 – 9 Agustus 2001
Presiden     Abdurahman Wahid
Didahului oleh     Prijadi Praptosuhardjo
Digantikan oleh     Boediono
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia ke-7
Masa jabatan
23 Agustus 2000 – 12 Juni 2001
Presiden     Abdurahman Wahid
Didahului oleh     Kwik Kian Gie
Digantikan oleh     Burhanuddin Abdullah
Informasi pribadi
Lahir     10 Desember 1953 (umur 58)
Indonesia Padang, Sumatera Barat, Indonesia
Suami/istri     Marijani (Liu Siaw Fung)
Agama     Islam
Dr. Rizal Ramli (lahir di Padang, Sumatera Barat, 10 Desember 1953; umur 58 tahun) adalah seorang ahli ekonomi dan politisi Indonesia.
Ia pernah menjabat Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan pada Kabinet Persatuan Nasional dimasa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Pengagum Einstein ini sempat menikmati bangku kuliah di Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung, tetapi akhirnya mendapatkan gelar doktor ekonomi dari Boston University pada tahun 1990.
Aktivitas
Pada tahun 1978, sewaktu masih menjadi mahasiswa ITB ia pernah dipenjara oleh rezim penguasa waktu itu karena kritik-kritiknya yang tajam terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggapnya telah melenceng dari cita-cita berbangsa dan bernegara.
Sekembalinya dari Amerika Serikat setelah menyelesaikan pendidikan Doktor ekonominya, Ramli bersama beberapa orang ekonom lain seperti Laksamana Sukardi mendirikan ECONIT Advisory Group. Ketika masih aktif sebagai Managing Director ECONIT, Dr Rizal Ramli dan rekan-rekannya di lembaga think-tank ekonomi independen ini sering mengkritisi kebijakan ekonomi pemerintah Orde Baru. Misalnya saja kritik terhadap kebijakan Mobil Nasional, Pupuk Urea, Pertambangan Freeport, dan sebagainya.
Sebagai seorang ekonom alumni Boston University ia juga memiliki jaringan pergaulan internasional. Ia adalah salah satu ekonom yang dipercaya menjadi penasehat ekonomi PBB bersama ekonom internasional lainnya seperti peraih Nobel Ekonomi, Prof Amartya Sen dari Harvard University, serta dua peraih Nobel lainnya, Prof Sir James Mirrlees Alexander dari Inggris dan Dr Rajendra K Pachuri dari Yale University dan beberapa ekonom lainnya dari berbagai negara.
Bersama dengan beberapa orang koleganya Rizal Ramli mendirikan Komite Bangkit Indonesia (KBI) dan saat ini sekaligus menjabat sebagai ketua.
Kabulog
Kiprah Dr Rizal Ramli di pemerintahan diawali dengan menjadi Kepala Bulog pada masa Pemerintahan Gus Dur. Meskipun tidak lama menjabat sebagai Kabulog, banyak terobosan penting dilakukannya untuk memperbaiki kinerja Bulog. Ia mereformasi Bulog menjadi lembaga yang lebih transparan dan accountable, misalnya saja dengan penghapusan rekening off-budget menjadi on-budget. Selama kepemimpinan Dr Ramli, Bulog berhasil melakukan penghematan dan peningkatan efisiensi biaya yang cukup signifikan sehingga menghasilkan surplus yang cukup besar.
Ia juga melakukan penyederhanaan dan konsolidasi rekening-rekening Bulog yang sebelumnya berjumlah 117 rekening menjadi hanya sembilan rekening saja. Selama kepemimpinan Dr Rizal Ramli di Bulog inilah dilakukan proses restrukturisasi untuk mempersiapkan Bulog menjadi Perusahaan Umum (Perum).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
Dr Rizal Ramli diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada bulan Agustus 2000. Beberapa hari setelah diangkat sebagai Menko menggantikan Kwik Kian Gie, Dr Ramli mencanangkan 10 Program Percepatan Pemulihan Ekonomi. Program percepatan pemulihan ekonomi tersebut meliputi:

    * 1. Menciptakan stabilitas di sektor finansial
    * 2. Meningkatkan kesejahteraan rakyat di pedesaan untuk memperkuat stabilitas sosial-politik
    * 3. Memacu pengembangan usaha skala mikro dan usaha kecil menengah (UKM)
    * 4. Meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani
    * 5. Mengutamakan pemulihan ekonomi berlandaskan investasi daripada berlandaskan pinjaman
    * 6. Memacu peningkatan ekspor
    * 7. Menjalankan privatisasi bernilai tambah
    * 8. Melaksanakan desentralisasi ekonomi dengan tetap menjaga keseimbangan fiskal
    * 9. Mengoptimalkan pemanfaatan suberdaya alam, dan
    * 10. Mempercepat restrukturisasi perbankan
Sumber:[http://id.wikipedia.org/]

0 comments:

Post a Comment