Home » » Alam Bromo

Alam Bromo

Written By maura avel on Saturday, November 10, 2012 | 6:50:00 AM

Bromo merupakan gunung aktif  berpasir tetapi tempatnya begitu indah dan dingin yang sehingga banyak para turis yang berkunjung tiap harinya baik wisatawan lokal ataupun asing itu merupakan penghasilan bagi masyarakat sekitarnya dan juga membawa nama Bangsa indonesia ke mancanegara bahwa indonesia mempunyai beragam pemandangan alam yang luar biasa indah yang patut dikunjungi oleh para wisatawan karna pulang takkan mengecewakan.
Banyak jalan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, namun yang paling mudah dan cepat melalui jalur Probolinggo – Tongas – Lumbang – Sukapura – Ngadisari – Cemoro Lawang – Gunung Bromo. Memasuki daerah Sukapura udara mulai menipis, hawa sejuk mulai terasa, jalan pun mulai berkelok-kelok dan menanjak, pohon kapuk dan jati banyak dijumpai di sepanjang jalan. Sedangkan ketika memasuki Ngadisari – Cemoro Lawang banyak terdapat tanaman sayur seperti daun bawang, kubis dan jagung. Dan ketika memasuki Cemoro Lawang, pohon cemara banyak tumbuh di daerah ini. Itulah mengapa masyarakat disini menyebutnya cemoro lawang, yang artinya pintu cemara.
Kedatangan Kami ke Bromo kali ini khusus untuk menyaksikan upacara Yadnya Kesada dan persiapannya. Upacara inilah yang menurut riwayatnya menjadi awal mula terjadinya kehidupan masyarakat Tengger dan Bromo. Pada liputan pertama, kami menyaksikan pemandangan menakjubkan, yaitu Bromo dikala sunrise , pada waktu itu kami harus bangun jam 2 pagi untuk menuju Gunung Pananjakan, saat dingin menusuk tulang. Sampai jaket dan celana tabal belum cukup menghalau dingin. Kami masih butuh penutup kepala, sarung tangan, syal, dan sepatu yang memungkinkan untuk menanjak. Kami rela melakukan semua itu demi menikmati sepenggal pesona terindah kawasan Gunung Bromo, saat matahari terbit.
Gunung Bromo dikelilingi oleh hamparan pasir yang sangat luas, yang disebut lautan pasir. Sebenarnya pemandangan di TNBTS selain pasir ada juga Savana dan Kaldera (seperti bukit barisan mengelilingi savanna dan lautan pasir). Selain Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan, Wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang luasnya sekitar 50.273,30 ha ini juga meliputi Kabupaten Malang dan Lumajang. Untuk mencapai kawasan Gunung Bromo dan sekitarnya anda harus menyewa jip, karena mobil jenis inilah yang mampu melaju leluasa melewati pasir, rumput dan tanjakan terjal.. Namun ada pilihan lain apabila hanya ingin sampai Gunung Bromo saja dari Cemoro Lawang atau dari Pura Luhur Poten, anda bisa menyewa kuda sampai ke bawah tangga Gunung Bromo. Banyak juga orang asli Tengger yang berprofesi sebagai penyewa Jip dan kuda.

Kehidupan masyarakat Tengger sendiri memang cukup unik, masyarakat yang mayoritas beragama Hindu ini, dipimpin oleh kepala adat yang disebut Dukun. Saat ini yang dipercaya menjadi dukun tertinggi di Tengger adalah Mudjono. Menurut sejarahnya, masyarakat Tengger merupakan orang-orang dari Kerajaan Majapahit yang eksodus ketika Majapahit runtuh. Namun menurut Mudjono, pendapat tersebut tidaklah seluruhnya benar, karena menurutnya sebelum orang-orang Majapahit datang, di desa Tengger ini telah ada kehidupan. Menurut ceritanya, Tengger sendiri diambil dari nama pasangan Roro Anteng dan Joko Seger. Konon mereka lama tidak dikaruniai anak, hingga pada suatu saat mereka bertapa untuk memohon anak. Setelah lama bertapa, pada suatu hari terdengar suara dari Gunung Bromo, yang akan mengabulkan permintaan mereka, tapi dengan syarat anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo. Mereka pun menyetujui persyaratan tersebut.
Namun setelah memiliki 25 anak, mereka pun ingkar, sehingga Gunung Bromo murka dan menyemburkan laharnya hingga ‘menjilat’ Raden Kesuma merupakan anak bungsu dari Joko seger dan Roro Anteng.pada tanggal 14 bulan Kesada (bulan ke-12) Jasadnya tidak ditemukan, namun dari Gunung Bromo terdengar suara Raden Kesuma yang mengatakan bahwa setiap tanggal 14 bulan Kesada agar melarung hasil bumi ke kawah Gunung Bromo- ritual ini disebut Yadnya Kesada (kesodo). Hingga sekarang ritual ini masih dijalankan setahun sekali. Pada perayaan Kesada umat Hindu dari Jawa dan Bali berdatangan ke Bromo, sehingga sejak pagi hingga malam, jalan menuju kawah Gunung Bromo menjadi sangat padat, mobil, Jip, truk dan motor memadati jalanan, bahkan ada pula yang berjalan kaki dari Cemoro Lawang ke Gunung Bromo. Sebelum melarung hasil bumi ke kawah, umat Hindu di Tengger melakukan persembahyangan di Pura Luhur Poten

Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/1758709-bromo-dan-masyarakatnya/#ixzz2BpXayCki

0 comments:

Post a Comment